• HOME


  • Guestbook -- Buku Tamu

    Silakan isi Buku Tamu Saya. Terima kasih banyak.
  • Lihat Buku Tamu


  • Comment

    Jika anda ingin meninggalkan pesan atau komentar,
    atau ingin mengajukan pertanyaan yang memerlukan respon saya,
    silakan klik
  • Komentar dan Pertanyaan Anda




  • Contents

    Untuk menampilkan daftar lengkap isi blog ini, silakan klik
  • Contents -- Daftar Isi




  • Rabu, 26 November 2008

    Didi Tarsidi: Autobiografi

    Saya lahir pada tanggal 1 Juni 1951, dari keluarga petani, di Desa Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Saya kehilangan penglihatan karena suatu penyakit infeksi pada usia lima tahun dan dikirim ke Bandung untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa bagi Anak tunanetra pada usia sembilan tahun. Setelah menamatkan SD (1966) dan SMP (1969) di sekolah tersebut, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG Negeri 2 Bandung) bersama-sama dengan siswa-siswa yang awas.
    Setamat SPG, pada tahun 1973 saya masuk ke Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris IKIP Bandung, meraih gelar Sarjana Muda pada tahun 1976 dengan skripsi yang berjudul The Reading Problems of Blind Students of SMP-SLBN/A Bandung, dan gelar Sarjana Pendidikan pada tahun 1979 dengan skripsi yang berjudul Comparative Study of Cultures in Foreign Language Teaching. Pendidikan magister saya ditempuh di Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada tahun 2000-2002, pada program studi bimbingan dan konseling. Saya meraih gelar magister pendidikan pada tahun 2002 dengan tesis yang berjudul KOMPETENSI SOSIAL ANAK TUNANETRA (Studi Kasus tentang Hubungan Sosial Anak Tunanetra dengan Sebayanya yang Awas di Lingkungan Sekitar Rumahnya). Pendidikan doctoral saya ditempuh di program studi yang sama di SPS UPI mulai tahun 2005 dan tamat pada tanggal 21 Nopember 2008 dengan disertasi yang berjudul Model Konseling Rehabilitasi bagi Individu Tunanetra Dewasa (Dikembangkan Berdasarkan Hasil Studi Kasus terhadap Individu Tunanetra yang Berhasil).
    Saya memulai dunia kerja pada tahun 1979 dengan bekerja sebagai interpreter untuk Helen Keller International, Inc., sebuah lembaga internasional yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, yang menjalin kerjasama dengan Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan untuk merintis pengembangan pendidikan terpadu bagi anak-anak tunanetra di Indonesia, yang kegiatan operasionalnya berpusat di Bandung. Di samping itu, saya juga memberikan pelajaran privat bahasa Indonesia kepada warga negara asing yang tinggal di Bandung. Pada tahun 1979 saya diangkat sebagai staf pengajar pada Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLB) Bandung, dan mulai mengajar di sini pada tahun 1980. Pada tahun 1994, ketika SGPLB Bandung diintegrasikan ke dalam Jurusan Pendidikan Luar Biasa di IKIP Bandung (sekarang UPI), saya pun berstatus sebagai dosen pada Jurusan PLB itu hingga saat ini, dan kini menduduki jabatan Lektor Kepala. Pada tahun 1999-2004 saya terlibat dalam Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Subdirektorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa yang mendapat bantuan dana dari pemerintah Norwegia dan bantuan teknis dari Universitas Oslo. Dengan peran sebagai konsultan sekaligus interpreter pada proyek ini, saya berkesempatan mengunjungi berbagai tempat di Indonesia untuk mempromosikan pendidikan inklusif.
    Pada tahun 2003, selama tiga bulan, saya termasuk di antara empat orang dosen yang dikirim oleh UPI ke Norwegia untuk studi bandung implementasi pendidikan inklusif di Norwegia dan pelaksanaan program master pendidikan kebutuhan khusus dengan orientasi pendidikan inklusif di Universitas Oslo. Kunjungan studi banding tersebut mengarah pada pembukaan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di Sekolah Pascasarjana UPI.
    Bentuk kontribusi lainnya dalam pengembangan pendidikan kebutuhan khusus adalah keterlibatan saya sebagai penyaji makalah pada sejumlah forum ilmiah yang terkait dengan bidang tersebut. Antara lain sebagai berikut:
    Judul Makalah - Forum Ilmiah
    Teaching Profession for the Blind in the Indonesian Context - International Conference on New Technology and New Horizon for the Blind, Treviso, Italia, 10-12 Desember 2005
    Preparing Special Needs Education Teachers in Indonesia - The International Symposium on the Removal of Barriers to Learning, Participation and Development, Bukittinggi, 26-29 September 2005
    Computer and Blindness - International Seminar on Human Aspects of Computer In Computer-Based Systems, ITB, Bandung, 21-22 September 2005
    Higher Education for Students with Visual Impairment in Indonesia - The 2nd International Conference on Higher Education for Students with Disabilities, Waseda University, Tokyo, Japan, 27 Maret 2005
    Implementation of Inclusive Education in Indonesia - The 8th International Congress on Including Children with Disabilities in the Community, Stavanger, Norway, 15-17 Juni 2004

    Kegiatan keorganisasian Saya antara lain mencakup Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), di mana saya menjabat sebagai Ketua Pertuni Daerah Jawa Barat (1994-1999) dan Kepala Biro Hubungan Luar Negeri Dewan Pengurus Pusat Pertuni (1993-1999), yang telah membawanya ke sejumlah negara untuk mewakili Pertuni dalam berbagai kegiatan internasional dalam bidang ketunanetraan. Pada tahun 2004 saya terpilih sebagai Ketua Umum Pertuni masa bakti 2004-2009, dan sebagai Vice President World Blind Union Asia-Pacific masa bakti 2004-2008.
    Hobi saya mencakup musik, catur, dan komputer. Teknologi “komputer bicara” telah memungkinkan saya mengakses Internet dan sumber-sumber kepustakaan non-Braille secara mandiri, dan ini sangat membantu kelancaran studi dan pekerjaan saya. Di samping itu, saya juga giat mengkampanyekan persepsi yang positif tentang ketunanetraan lewat Internet melalui blog Counseling and Blindness.
    Saya menikah dengan Wacih Kurnaesih, S.Pd., seorang guru pada SLB/A Negeri Bandung, pada tahun 1980, dan dikaruniai dua orang anak laki-laki, Tommi Rinaldi, S.T. (lahir tahun 1981) dan Sendy Nugraha, S.E. (lahir tahun 1983).

    Senin, 25 Juni 2007

    My Life Story as a Blind Citizen of Indonesia

    Didi Tarsidi:
    My Life Story as a Blind Citizen of Indonesia

    Childhood and Education
    I was born in Sumedang and had education in Bandung. I was born in 1951 in the town of Sumedang, Indonesia, the third child of five children of a farmer’s family. I became blind at age 5 because of an illness and was sent to a special school for the blind in Bandung, about 80 kilometres from home, at age 9. Finishing primary and junior high school education in the special school, I went to a regular high school, then entered the English department at the Indonesia University of Education (UPI) and earned a bachelor’s degree in 1979. In 2000, I took a master programme in guidance and counseling for children with special needs at UPI and earned a master’s degree in 2002. In 2005 I took up a doctoral programme in guidance and counseling and was promoted to be a Doctor on November 21, 2008. My disertation is on rehabilitation counseling for adult individuals with visual impairment – i.e. individuals who acquire their visual impairment during adulthood.

    Work and Career
    Upon graduating from the English department in 1979, my first job was interpreter for Helen Keller International, Inc., a New York-based organization that helped the Indonesian Ministry of Education to establish integrated education for children with visual impairment in Indonesia. In 1980 I began my teaching career at SGPLB Bandung (teachers college for special education) where I taught English. In the meantime, I also had started a profession as a private visiting teacher of Indonesian, giving Indonesian lessons to English-speaking expatriates living in Bandung.
    In 1994 I was transferred from SGPLB to the Department of Special Education at UPI to teach ortopedagogics, Braille and basics of orientation and mobility to student teachers for children with visual impairment up until now.
    In 1998 I was introduced to Mr. Watterdal, Braillo Norway representative in Indonesia, project manager for the Education Quality Improvement for Children with Special Needs, a project under the Indonesian Ministry of Education with a financial aid from the Norwegian government. Since then I have been travelling to many parts of Indonesia as a resource person for seminars and workshops to promote the idea of inclusive education and to secure the establishment of resource centres for inclusive education.
    In early 2002, for three months, I and three colleagues from my university were sent as guest researchers to the University of Oslo in preparation for the establishment of a master programme in special needs education at UPI. With technical assistance from the University of Oslo and financial aid from the Norwegian government, the master programme started in September 2002 with 15 students from different parts of Indonesia.

    Organization
    In 1994 I was elected President of Pertuni (Indonesian Blind Union) of West Java, and, during the same period, I also took charge of the Bureau of Foreign Relations of the Central Executive Committee of Pertuni, and this position had given me the opportunities to go to a number of countries for conferences and the like. In January 2004 I was elected President of Pertuni.
    In addition, I am also the coordinator of Mitra Netra Foundation services in Bandung. Our main services are Braille and talking book library service and computer skill training for people with visual impairment.

    Family
    I married Wacih (who is also blind) in 1980. Our first son, Tommi Rinaldi, was born one year later, and the second, Sendy Nugraha, was born in 1983. Currently Tommi is a geologist and is married to Aas Nurasiyah. Sendy is an accounting officer. We live in a house that we bought with our own savings plus a bank loan. The marriage was the real start of our lives as members of the society and citizens of Indonesia. We began to actually learn how to be a responsible and independent adult citizen, and very often we had to learn it in a hard way due to societal attitude towards blindness and lack of physical environmental accessibility on the one hand, and lack of our own preparation for the real social life on the other hand (we had been living in a special institution for the blind for so long). We hope that the younger generation of the blind citizens will learn to live socially in a much easier way.

    Updated November 21, 2008